FREELINENEWS.COM | BIREUEN – Dampak banjir bandang yang terjadi akhir November lalu, jembatan di Gampong Simpang Jaya, Kecamatan – Alue Limeng, Kecamatan Jeumpa, sudah miring parah dan terancam ambruk.
“Jembatan ini merupakan jalur transportasi utama warga untuk mengangkut hasil pertanian ke pusat kota,” kata Razali Usman (54) warga setempat kepada freelinenews.com, Minggu (4/1/2026) pagi.
Tambah Razali, bahwa jembatan rangka baja itu selama ini jadi jalur urat nadi atau penyeberangan utama dalam mendukung kelancaran aktivitas masyarakat sehari dan menyeberangi hasil pertanian dan sarana transportasi anak-anak sekolah.
“Kami mengharapkan jembatan rangka baja sudah berat miring dan nyaris ambruk ini dapat dibangun baru agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat kendali berjalan lancar,” harapnya.
Pasca mengalami kerusakan, agar masyarakat masyarakat dapat melintasinya terutama yang menggunakan sepeda motor, warga di sana memasang beberapa lembar papan kayu dibagian tengah jembatan.
Sementara itu, Keuchik Alue Limeng Yusri AR didampingi Ridwan (39) Kepala Dusun Likot Apui kepada freelinenews.com ditemui di desa itu dilokasi terpisah didampingi sejumlah warga setempat.
Kerusakan jembatan rangka baja itu termasuk salah satu fasilitas umum di wilayah desa mereka yang dilaporkan juga telah mengalami kerusakan parah dan nyaris ambruk.
Tentunya masyarakat Alue Limeng juga mengharapkan agar pemerintah dapat membangun kembali jembatan itu karena sarana penyeberangan utama masyarakat Alue Limeng, Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa dan gampong di Kecamatan Juli.
Mengatasi jalan utama Alue Limeng ke Salah Sirong Jaya 2 km putus jadi aliran sungai, masyarakat telah memberikan lahan perkebunan untuk dijadikan jalan alternatif secara sukarela untuk dapat melintas dan memudahkan distribusi bantuan pasca bencana, dan jalur sebagai jalur ekonomi bagi warga.
“Jadi kami harap jalan alternatif itu juga dapat segera dibangun, minimal pengerasan saja dulu agar mudah dilalui warga,” harap perangkat gampong setempat.
Sehingga kami dapat memberdayakan diri kami sendiri dalam berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Tidak mungkin juga kami terus berdiam diri pasca bencana ini, jika akses sudah kembali lancar kami mudah pergi ke kebun dan menjual hasil panen,” harapnya.[]









