FREELINENEWS.COM | BIREUEN – Jelang Ramadan dan Idul Fitri 1448 H, Masyarakat korban banjir bandang dan tanah longsor di Gampong Alue Limeng, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen mengharapkan pemerintah untuk segera membangun rumah hunian.
“Kebutuhan paling utama diharapkan masyarakat kami saat kami sekarang ini adalah rumah hunian karena akan memasuki bulan puasa,” kata Keuchik Alue Limeng, Syukri AR (55) didampingi Kasi Pembangunan, Sulaiman (49) dan Kepala Dusun Likot Apui, Ridwan (39) kepada freelinenews.com, Minggu (4/1/2027) pagi.
Harapannya dengan dibangun rumah hunian sementara itu, warga berada di pengungsian bisa segera pulang bersama anggota keluarga, sambil menunggu dibangun rumah permanen dan dapat melaksanakan ibadah dan berpuasa dengan nyaman nantinya, ungkap Ridwan.
Dijelaskan juga bahwa dampak dari bencana banjir bandang dan tanah longsor ada 47 rumah hilang ambruk menjadi aliran sungai. Juga ada beberapa rumah terancam ambruk yaitu milik Junaidi (45), Syarifuddin (60) di Dusun Likot Apui.
Kemudian juga rumah milik M Daud Ahmad (60), Zulkifli (55), dan Miswardi (45) di Dusun Gunong Jagong dan rumah Samsul Bahri (55), Nurhayati (50), dan Ruhana (60) di Dusun Cot Dara Baro, rinci Keuchik dan Kelapa Dusun Likot Apui.
Dijelaskan bahwa jumlah total masyarakat Alue Limeng ada 165 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 615 jiwa, rata-rata berpenghasilan dari sektor pertanian dan lokasi gampong itu diapit bukit dan pegunungan.
“Selain membutuhkan hunian, masyarakat juga sangat berharap agar pemerintah segera membangun akses jalan alternatif menjadi jalan utama untuk kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat,” sebut Keuchik.
Lanjutnya, selain itu juga ada sejumlah fasilitas umum rusak seperti kantor keuchik, gedung serba guna, jembatan gantung, jembatan rangka baja Alue Limeng Kecamatan Jeumpa menghubungkan Simpang Jaya, Teupin Mane, Kecamatan Juli dan tembus ke jalan nasional Bireuen-Takengon Km 11 Juli.
Juga meunasah di Dusun Likot Apui, sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Alue Limeng yang sudah jatuh ke sungai WC dan saat ini jarak gedung sekolah dengan longsoran tepi sungai tergerus banjir sudah sangat dekat.
Begitu juga gedung pertanian hilang jadi aliran sungai dan gedung Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) sudah terancam ambruk ke sungai, begitu juga tanah kuburan kena dampaknya 1200 meter telah hilang.
Warga juga telah memindahkan sejumlah jasad warga telah meninggal dunia dari kuburan yang longsor ke lahan tanah wakaf berada jauh dari tepian sungai. Sedangkan satu deret kuburan yang belum terkena longsor masih di tempat pemakaman umum tersebut.
Tiga unit jembatan juga rusak di Dusun Likot Apui, jalan utama dari Gampong Aleu Limeng tembus ke Salah Sirong Jaya sekitar 2 km juga telah putus total untuk akses jalan telah dibuka jalan alternatif dari kebun warga.
“Jalan alternatif itu diberikan secara sukarela oleh masyarakat untuk dapat melintas dan memudahkan distribusi bantuan pasca bencana, juga sangat dibutuhkan masyarakat sebagai jalur ekonomi. Jadi kami harap supaya jalan itu segera dibangun minimal pengerasan agar mudah dilalui,” harap perangkat gampong setempat.
Diharapkan juga kepada pihak PLN Bireuen untuk dapat memperbaiki kerusakan jaringan listrik karena saat ini masih ada satu dusun padam listrik yaitu Dusun Cot Dara Baro.
“Kami harapkan juga kepada Pemkab Bireuen, nanti juga ada penanganan khusus bagi warga mengungsi dalam memenuhi konsumsi di bulan suci ramadhan,” harap Ridwan.[]










