Gagasan Daerah Irigasi Sawah Baru untuk Desa Bantayan, Matang Seuleumak, dan Desa Keude Bagok Dua, Kecamatan Nurussalam, Kabupaten Aceh Timur. Gagasan ini sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan di wilayah Kemukiman Bagok, Kecamatan Nurussalam.
FREELINENEWS.COM | ACEH TIMUR – Keberadaan sungai (Krueng Bagok) yang menghubungkan Desa bantayan, Matang Seuleumak dan Desa Keude Bagok Dua, merupakan sumber daya alam yang sangat potensial untuk dimamfaatkan sebagai daerah irigasi sawah di tiga desa di daerah itu.
Penyedian air irigasi merupakan dukungan utama untuk mewujudkan ketahanan pangan yang sedang dicanangkan Pemerintah. Agar pola tanam dapat dilakukan dalam satu tahun dua kali, maka kebutuhan air irigasi sangat penting untuk sektor pertanian padi sawah.
Penulis dalam tulisan ini mencoba mengabungkan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia untuk menghasilkan sebuah daerah irigasi agar puluhan hektar sawah ditiga desa dalam Kemukiman Kuta Bagok, yaitu, Desa Batayan, Desa Matang Seuleumak, dan Desa Keude Bagok Dua dapat teraliri irigasi buatan dengan cara memamfaatkan sungai yang selama ini tidak berfungsi.
Dalam tulisan ini, penulis mencoba membuat gagasan atau wacana memamfaatkan normalisasi sungai Bagok untuk menampung air hujan dan dapat dimamfaatkan untuk mengairi sawah di daerah itu. Pada tulisan ini penulis memberi nama Program Daerah Irigasi Bantayan, Matang Seuleumak, Bagok Dua (D.I -BAMASDA).
LIHAT GAMBAR GAGASAN D.I BAMASBA di bawah ini :
Penulis memperkirakan, pajang sungai Bagok yang selama ini bersemak sekitar lebih kurang 800 meter (Dalam Gambar berwarna kuning). Sungai tersebut dapat dilakukan normalisasi dengan leber 10 meter dan kedalaman 3 meter untuk menampung air hujan dengan menggunakan pintu air 3D.
Ketika musim hujan pintu air akan berfungsi untuk membuang kelebihan debit air ke muara, dan saat musim kemarau hulu sungai dapat menampung air untuk kebutuhan irigasi sawah. Tiga desa di daerah itu dapat memamfaatkan sumber air dengan menggunakan pompanisasi mengaliri puluhan hektar sawah mereka yang selama ini hanya mengandalkan tadah hujan.
Ide dan gagasan ini dapat terealisasi dengan menyampaikan dalam Musrenbang kecamatan lalu dilanjutkan ke Musrenbang Kabupaten Aceh Timur. Dari hasil pantauan penulis untuk mengupayakan D.I BAMASBA ini tidak membutuhkan anggaran besar.
Kebutuhan anggaran adalah untuk membangun pintu air 3D di Kawasan Desa Gampong Keude Bagok Dua, seblum KUD. Anggaran untuk melakukan normalisasi sungai dengan menggunakan escavator (Beco) dan pengadaan mesin pompanisasi, serta saluran tersier di areal perswahan.
Analisa, masa tanam musim kemarau dapat memamfaatkan sumber irigasi D.I BAMASBA, sementara penanaman musim selanjutnya dapat mengandalakan air hujan. Sehingga dengan adanya program ini, petani di tiga desa dapat meningkatkan perekonomian mereka dan dapat mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan Pemerintah.
Selain itu, D.I BAMASBA juga dapat dijadikan sebagai sumber air untuk tanaman palawija lainnya serta untuk sektor perikanan darat. Semoga saja gagasan ini mendapat sambutan dari Pemerintah Gampong, Pemerintah Kecamatan, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur. []