Mengenal Kata Kiasan Dalam Bahasa Aceh-2

Pada artikel pertama, bahwa kata kiasan untuk menyampaikan pesan dengan cara yang imajinatif. Dalam bahasa sehari-hari, masyarakat Aceh banyak tersirat kata kiasan untuk menyampaikan ucapanya dengan kiasan atau majah yang tidak pada arti sebenarnya. Menyampaikan dengan kata majah juga untuk menghindari agar yang disampaikan itu tidak tersingung perasaanya. Artinya menyampaikan dengan kata halus dan menggunakan perasaan. Sehingga orang yang berkata tersebut tidak disebut sebagai orang Lipeh Bibi (Tipis Bibir) kiasan tersebut adalah sebutan untuk orang yang suka menceritakan tentang orang lain (menggosip).

Semoga kita juga tidak disebut sebagaiĀ  Lalat Mirah Rueng (Lalat Merah Punggung); kiasan ini disampaikan kepada orang yang suka mengabarkan berita bohong kepada banyak orang. Tetapi hal tersebut tidak suka didengar oleh orang yang Lipeh Oen Punyueng (Tipis Daun Telinga) artinya orang ini cepat marah jika mendengar kabar yang tidak baik terhadap dirinya, atau istilah lainnya dalam bahasa Aceh Bagah That Meutie (cepat emosi).

Muat Lebih

Tetapi bagi orang yang Teubai Oen Punyung (Tebal Daun Telinga) artinya orang yang cuek, Ia tidak peduli meski dicaci maki oleh orang lain, istilahnya orang ini Hana Peureumeun Sapui atau sering dikatakan bahasa ulok-ulok di Aceh No Peureman Seupai.

BACA JUGA : Mengenal Beberapa Kata Kiasan Dalam Bahasa Aceh

Banyak kata kiasan terhadap perbuatan yang tidak baik atau dilarang dalam agama, Panyang Jaroe (Panjang tangan) kiasan ini dimaksudkan kepada orang yang suka mengambil milik orang lain, atau pencuri.

Untuk orang yang pelit dalam bahasa Aceh juga punya kiasan Leukiet Lagee ek linot lam bak me (lengket seperti tahi kelulut dalam pohon asam), artinya orang tersebut susah sekali mengeluarkan hartanya baik untuk amal kebaikan atau untuk kepentingannya sendiri.

Tidak semuanya bahasa kiasan dalam bahasa Aceh bermakna buruk atau sindiran tidak baik. Akan tetapi ada juga kiasan tentang hal kebaikan, seperti kata Phue Tulueng (Ringan Tulang) kiasan ini ditujukan kepada orang yang rajin, suka tolong-menolong dalam kehidupan sosial masyarakat.

Kiasan dalam bahasa Aceh ada juga yang menyebutkan tanda pada tubuh, seperti ek lalat bak mieng (tahi lalat di pipi) istilahnya orangĀ  ini jodohnya telah ada yang menandainya. Keunue meuboh manok (Tumit bagaikan telur ayam) kiasan ini biasanya dimajaskan kepada gadis berparas cantik dan ayu.

Tetapi jika seorang laki-laki atau perempuan yang suka jalan-jalan, maka oleh orang Aceh akan menyebutnya dengan kiasan, Pusa Bak Tapak (Pusar ditelapak kaki). Tetapi jika wajahnya terlihat sering mengantuk dan tidak punya semangat, sudah pasti orang tersebut akan dikiaskan lagee bue tengeut (Seperti kera mengantuk).

Nah, jika Anda menolak disebut dengan kata kiasan yang tidak baik, maka utamakan dalam kehidupan Anda dengan sikap Akhlakul karimah, sopan dan santun, maka Anda akan disebutkan dengan kata Leubee (Alim) maksudnya mengetahui banyak tentang ilmu agama dan mengamalkannya. (*)

Penulis : Ilyas Ismail

Wartawan Sekretaris PWI Aceh Timur dan Pemerhati sosial masyarakat.