FREELINENEWS.COM | BIREUEN – Pihak dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Pusat, memastikan lahan digunakan untuk membangun rumah hunian tetap (Huntap) korban banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen adalah lahan milik pribadi dan disedia Pemerintah Daerah (Pemda).
Penegasan itu disampaikan Tenaga Ahli Kepala BNPB, Brigjend TNI (Purn) Yan Namora didampingi Bupati Bireuen, H Mukhlis dan Forkopimda serta pejabat terkait lainnya ditanyai freelinenews.com, selesai peletakan batu pertama pembangunan Huntap perdana di Bireuen, di Gampong Bale Panah, Kecamatan Juli, Rabu (7/1/2026) pagi.
Ditanyai terkait dengan penyediaan tanah bagi masyarakat korban yang sudah tidak ada tanah karena rumah telah hilang diterjang banjir dan tanah longsor dari pemerintah pusat apakah sudah ada pembahasan terkait hal ini.?
Tenaga Ahli Kepala BNPB menjelaskan bahwa terkait penyediaan lahan ini dari pemerintah pusat mengharapkan lahan itu sudah clear dan clean dan sudah disediakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda).
Terkait jumlah rumah hunian tetap yang akan dibangun di Bireuen, ada 3.626 unit untuk tahap pertama dan tahap kedua dalam proses pendataan dengan jumlah diperkirakan mencapai 4.000 rumah lebih.
Dikatakan juga bahwa banyak rumah hunian tetap yang akan dibangun itu banyak masyarakat sudah memiliki tanah atau lahan pertapakan rumah sendiri dan itu sebagai persyaratan untuk dapat kami bangun.
Syaratnya antara lain ada Sertifikat Hak Milik (SHM), untuk rumah rusak sedang diberikan bantuan stimulus yaitu sebesar Rp 30 juta dan rumah rusak ringan Rp 15 juta/unit rumah, terang Brigjend TNI (Purn) Yan Namora.
Sebelumnya, Rahmatsyah (56) salah seorang korban mengatakan rumah semi permanen ditempati bersama istri Malahayati (44) dan tiga anaknya Muhammad Sultan (18), Muhammad Ifan Maulana (15), Aisyah Humaira (5.5) sudah hilang jadi aliran sungai.
Bencana alam menghancurkan rumah dan pemukiman warga berubah jadi sungai, terjadi dari hari Selasa – Kamis (25 s.d 27/11/2025) lalu. Sedangkan rumah mereka di Dusun Kaye Jatoe, hancur dan hilang pada Kamis (27/1/2026) subuh pukul 04.00 WIB.
Akibat kejadian itu, Rahmatsyah dan anggota keluarga saat ini masih harus mengungsi karena tidak ada rumah, dan berharap pemerintah membantu penyediaan lahan membangun rumah, kata warga Rahmatsyah juga salah satu korban bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004 silam.
Yusri (45) warga Dusun Kaye Jatoe saat ini dia tidak punya rumah karena hilang jadi sungai. Rumah kontruksi semi permanen miliknya berjarak 100 meter lebih dari tepian sungai. Namun rumahnya dan warga lainnya sudah hilang jadi sungai.
“Saya berharap bantuan pemerintah menyediakan lahan dan membangun rumah untuk kami,” ujarnya dilokasi peletakan batu pertama pembangunan rumah Hunian tetap (Huntap) perdana oleh Bupati Bireuen bersama pejabat terkait.
Dalam rangkaian peletakan batu pertama pembangunan hunian tetap itu, Bupati Bireuen, H Mukhlis bersama Tenaga Ahli Kepala BNPB, Brigjend TNI (Purn) Yan Namora, Forkopimda, turut menyerahkan Data Tunggu Hunian (DTH) kepada korban banjir di Gampong Bale Panah, Kecamatan Juli sebesar Rp 1.8 juta untuk tiga bulan.[]









