Tasamuh

Tasamuh : Virtual Morality

Kita semakin terbiasa dengan pesan-pesan multimedia berisi kalimat-kalimat luar biasa yang diramu dengan cermat. Atau pesan-pesan moral via medsos yang tersusun rapi tanpa cela. Atau cuplikan film pendek yang menggugah sampai kita meneteskan airmata. Juga potongan-potongan video sang ustadz yang menyejukkan nurani yang dapat kita nikmati secara virtual.

Virtual adalah komunikasi yang dilakukan secara maya melalui perantara gawai, internet dan aplikasi yang bisa memuat postingan apa saja tentang pesan moral, dakwah dan semacamnya. Tapi juga bisa sebaliknya hoax, konten menghasut, konten dewasa dan aneka macam kepentingan sesuai keinginan pengelola akun. Kita harus sadar bahwa pesan-pesan seperti itu telah melalui pengkondisian dan proses editing yang mungkin berkali-kali, lalu sampai kepada kita dalam bentuk yang sempurna.

Related Articles

Lalu pesan-pesan sempurna di dunia maya itu kita bawa ke alam nyata dan menyandingnya dengan perilaku-perilaku seseorang. Tapi bedanya, di alam nyata seseorang cenderung bertindak spontan, tidak bisa diedit. Bisa saja salah ucap atau tindak karena sifat kemanusiaannya. Atau mungkin saja latah, lalu kita menghakiminya dengan skala maya. Itu tidak fair!

Alhamdulillah jika pesan-pesan bijak mampu mengubah kita ke arah yang lebih baik, ikut menyebarkannya juga bisa menjadi nilai ibadah. Begitupun, pesan yang berisi konten menghasut, penghakiman atau permusuhan bisa masuk ke jalur pribadi gawai kita kapan saja. Kita harus mempertimbangkan untuk ikut menyebarkan pesan tersebut, apa untungnya buat kita. Karena meneruskan pesan itu ke yang lain sama artinya kita ikut menyebarkan permusuhan atau hasutan.

Konten dakwah di media visual saja harus punya filterisasi dari pemahaman-pemahaman dan cara pandang berbeda tentang akidah, misalnya. Apalagi konten-konten tanpa sumber yang setiap hari berseliweran dari group ke group WA yang diperbincangkan dan diperdebatkan sesuai pandangan masing-masing. Padahal itu tidak mempengaruhi apapun kecuali memudarnya silaturrahmi akibat beda pandangan di group WA. Berdebat tentang keadaan Negara, tentang presiden dan lainnya sampai memanas, padahal tidak mengubah keadaan sama sekali.

Silahkan punya pandangan, tapi siapa kita untuk menghakimi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.