Terkait Tingginya Harga Gas 3 Kg, IPPAT Minta DPR Gelar Rakor Dengan Pertamina

“Sebagaimana laporan masyarakat yang kita terima, bahwa ada indikasi permainan harga gas bersubsidi 3 Kg di pedalaman Aceh Timur, seperti di daerah pedalaman Kecamatan Ranto Peureulak, harga gas subsidi di sana mencapai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu/ tabung,” ujar Ketua Umum IPPAT Nanda Abdul Halim, S.Si.

FREELINENENEWS.COM | IDI – Ketua Umum Ikatan Pelajar dan Pemuda Aceh Timur (IPPAT) Nanda Abdul Halim, S.Si mengharapkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten(DPRK) Aceh Timur, untuk menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) dengan pihak PT. Pertama atas terjadinya kelangkaan gas elpiji 3 kg di daerah pedalaman Aceh Timur.

Read More

“Sebagaimana laporan masyarakat yang kita terima bahwa ada indikasi permainan harga gas bersubsidi 3 Kg di pedalaman Aceh Timur, seperti di daerah pedalaman Kecamatan Ranto Peureulak, harga gas subsidi di sana mencapai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu/ tabung,” ujar Nanda kepada freelinenews.com, Kamis (08/08) siang.

Menanggapi laporan masyarakat, Nanda meminta DPRK Aceh Timur untuk mengelar rapat dengan pihak Pertamina untuk mempertanyakan terkait tingginya harga gas subsidi 3 kg, yang diperuntukkan untuk masyarakat miskin.

“Pihak kita juga meminta pihak Kepolisian untuk terus menelusuri, pihak-pihak yang disinyalir mempermainkan harga gas subsidi tersebut. Kita menduga ini indikasi peremainan harga yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, sehingga dapat meresahkan masyarakat yang seharusnya mendapat subsidi dari Pemerintah,” ujar Nanda Abdul Halim, alumni FMIPA  Unsyiah itu.

Sambung Nanda, pihaknya sangat heran dan menilai aneh, kenapa bisa terjadi kelangkaan gas subsidi, padahal pihak Pertamina setiap tahunnya selalu menyatakan elpiji 3 kg untuk Aceh dipasok sesuai kuota, bahkan lebih.

“IPPAT sebagai kelompok mahasiswa dan pemuda, akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi elpiji 3 Kg, sehingga subsidi yang diberikan Pemerintah kepada masyarakat itu tidak menjadi lahan bisnis orang-orang yang hanya mengambil keuntungan semata. Sementara rakyat kecil seperti masyarakat pedalaman selalu dalam kondisi terpuruk dan tidak menikmati sumbangan subsidi yang diberikan Pemerintah,” ketus Nanda.

Tambannya, sebagai bentuk keseriusan dan solusi menanggapi masalah itu, DPRK Aceh Timur Khususnya Komisi B DPRK Aceh Timur harus membuat Rapat Koordinasi (Rakor) antara PT. Pertamina dengan semua Pimpinan Pangkalan Gas Wiraswasta yang ada di daerah tersebut. Guna untuk bahas seputar mahalnya harga elpiji 3 kg.

[artikel number=3 tag=”https://freelinenews.com/informasi-update-kondisi-jamaah-haji-aceh-timur-di-mekkah/”]

“Dimana masyarakat miskin tidak lagi membelinya melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) kedepan. Sehingga penyaluran elpiji 3 kg itu tepat sasaran, tidak ada penyelewengan/permainan harga menekan masyarakat miskin dan betul-betul diperuntukkan ‘hanya bagi masyarakat miskin seperti yang tertera pada tabung gas bersubsidi tersebut.” pungkas Putra Kelahiran Peureulak.

Sementara itu, M. Thaib (48) warga Pasir Putih Peureulak, kepada freelinenews.com mengaku dirinya, kemarin mencari gas elpiji 3 Kg dari Peureulak hingga ke Kota Idi, Ibu kota Kabupaten Aceh Timur, dengan jarak mencapai 35 KM.

“Setelah saya cari sampai ke kota Idi, namun gas 3 Kg juga tidak saya dapati, sehingga saya haru pulang dengan tabung kosong,” pungkas M. Thaib. (*)

Leave a Reply