• Tentang Kami
Friday, June 26, 2026
  • Login
Freelinenews
  • HOME
  • INTERNATIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • KESEHATAN
  • OPINI
No Result
View All Result
Freelinenews
No Result
View All Result
  • HOME
  • INTERNATIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • KESEHATAN
  • OPINI

PENGADAAN LAHAN 22.000 HA UNTUK EKS KOMBATAN GAM DI ACEH TIMUR

Pemerintah Perlu Hati-Hati Cari Lahan Yang Layak Untuk Eks Kombatan GAM

Redaksi by Redaksi
2 years ago
in Berita Utama
PENGADAAN LAHAN 22.000 HA UNTUK EKS KOMBATAN GAM DI ACEH TIMURPemerintah Perlu Hati-Hati Cari Lahan Yang Layak Untuk Eks Kombatan GAM

Foto udara hutan Aceh yang masih lestari. [Dok. Yayasan Konservasi Alam Timur Aceh]

0
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

FREELINENEWS.com – Rencana Pemerintah Aceh dan Kementerian Agraria, Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menyediakan lahan untuk mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merupakan langkah baik untuk mewujudkan salah satu komitmen penting MoU Helsinki dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Relis Pers Yayasan Konservasi Alam Timur Aceh (YAKATA) Rabu (07/08/2024) mengatakan, rencana tersebut bertujuan untuk membantu para mantan kombatan dalam beralih ke kehidupan sipil, meningkatkan kesejahteraan mereka dan keluarga, serta mendukung proses perdamaian di Aceh.

Baca Juga

Ny Lismawani, Istri Bupati Al-Farlaky Raih Gelar Doktor

Ny Lismawani, Istri Bupati Al-Farlaky Raih Gelar Doktor

June 23, 2026
Bupati Al Farlaky Minta OPD Serius Sampaikan Laporan Kinerja Pemerintahan

Bupati Al Farlaky Minta OPD Serius Sampaikan Laporan Kinerja Pemerintahan

June 19, 2026

Tapi Pemerintah perlu kehati-hatian agar tidak mengulangi kegagalan yang telah berulang kali terjadi. Kegagalan program terdahulu perlu menjadi catatan dimana pemerintah telah menyediakan banyak lahan di Aceh seperti di Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Jaya dan Aceh Tamiang.

“Namun gagal dan hingga kini tanah tersebut banyak yang dialihtangankan ke pihak lain. Hal ini tidak lain dikarenakan kurangnya kemampuan, pelatihan, modal dan kondisi lahan yang tidak layak untuk kehidupan para eks pejuang,” kata Ketua YAKATA Zamzami.

Lanjutnya, rencana pelepasan kawasan hutan di Aceh Timur terletak di Kecamatan Peunaron, Ranto Peureulak, Banda Alam dan Pante Bidari seluas 22.000 hektar perlu menjadi perhatian pemerintah karena lokasi ini terdapat ratusan ekor gajah liar yang saat ini menjadi sumber konflik yang berkepanjangan, bahkan mungkin lokasi konflik satwa paling tinggi di Indonesia.

“Melepaskan kawasan hutan ini dan membangun kebun untuk eks kombatan dinilai akan sia-sia karena konflik satwa akan meningkat. Jadi tanah ini sangat tidak layak. Belum lagi jika dikaji secara ekonomi dan ekologi secara lebih mendalam.”

“Kita memahami kebutuhan eks kombatan, tapi membiarkan mereka hidup di lahan yang tidak layak tentu saja tidak menyelesaikan masalah. Sementara lokasi-lokasi yang relatif jauh dari kawasan hutan pun, gajah masuk dan merusak lahan-lahan masyarakat dan perusahaan perkebunan, konon lagi lahan yang berada di tengah hutan,” ujar Zamzami.

Tambahnya, beberapa perusahaan perkebunan seperti PT Atakana Company, PT Dwi Kencana Semesta, PT Indo Alam, PT Bumi Flora, PT Aloer Timur, PT Putri Hijau dan beberapa lainnya, lahan mereka juga rusak akibat serangan gajah.

Diperkirakan lahan yang rusak ini mencapai lebih dari 20.000 hektar. Luas yang hampir sama dengan lahan yang diajukan pemerintah untuk eks kombatan.

Salah satu contoh lain adalah pembangunan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Sumedang Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur sebanyak 189 unit rumah di lahan seluas 500 ha dari 7.200 ha lahan eks Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Gunung Raya Medang untuk mantan kombatan yang dibangun oleh pemerintah dan diresmikan pada tahun 2016 lalu.

“Saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Akses ke sana rusak berat. Konflik gajah juga sangat tinggi sehingga masyarakat meninggalkan lokasi yang sudah dibangun tersebut. Sangat sulit mereka bisa hidup di habitat gajah,” paparnya.

Kesalahan yang sama hendaknya tidak diulangi oleh Pemerintah Aceh dan Kementerian ATR/BPN dengan rencana membangun lokasi yang berada di dalam hutan. Ini benar-benar akan menghamburkan dana saja dan membuat masyarakat terancam dengan risiko bencana ekologis seperti banjir serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dapat ditimbulkan akibat perubahan fungsi lahan (Deforestasi) kawasan hutan yang sekarang menjadi berfungsi sebagai sumber air masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Arakundo Wilayah Sungai (WS) Jambo Aye dan DAS Peureulak. Serta membuat konflik satwa liar dan manusia yang akan menjadi sangat tinggi. Itu tidak bisa dihindari.

“Selain persoalan prosedur legalitas dan peruntukan yang tepat sasaran seperti keluarga korban konflik atau anak yatim yang orangtuanya meninggal saat berjuang maupun setelah konflik selesai.”

“Kami juga menyarankan kepada Pemerintah Aceh untuk mencari lahan yang lebih sesuai dan lebih layak hidup bagi mantan kombatan. Sangat disayangkan disaat kebutuhaan ekonomi mereka masih menyedihkan, tapi mereka malah ditempatkan di lokasi yang salah. Seakan-akan pemerintah ingin menyengsarakan mereka,” ujar putra kelahiran Aceh Timur.

Yakata menyarankan agar pemerintah dapat mencari lokasi lain dengan risiko rendah seperti HGU yang telah berakhir izinnya, HGU terlantar baik di Aceh Timur maupun di Aceh yang bisa dimanfaatkan.

“Banyak lahan yang masih dimanfaatkan tanpa harus merusak hutan. Kalaupun harus melepaskan kawasan hutan, seharusnya dipilih lokasi-lokasi yang memiliki resiko rendah. Sekarang tergantung niat baik saja,” demikian Zamzami. []

ShareTweetSend
ADVERTISEMENT

Baca Juga

Ny Lismawani, Istri Bupati Al-Farlaky Raih Gelar Doktor

Ny Lismawani, Istri Bupati Al-Farlaky Raih Gelar Doktor

June 23, 2026
Bupati Al Farlaky Minta OPD Serius Sampaikan Laporan Kinerja Pemerintahan

Bupati Al Farlaky Minta OPD Serius Sampaikan Laporan Kinerja Pemerintahan

June 19, 2026
Dari Makam Sultan Peureulak, Al-Farlaky Gaungkan Kebangkitan Islam Pertama Asia Tenggara

Dari Makam Sultan Peureulak, Al-Farlaky Gaungkan Kebangkitan Islam Pertama Asia Tenggara

June 18, 2026
Bupati Al-Farlaky Dukung Pemekaran DOB Peureulak Raya

Bupati Al-Farlaky Dukung Pemekaran DOB Peureulak Raya

June 16, 2026
Bupati Al-Farlaky Siapkan Alat Berat Untuk Jaringan Irigasi Rusak Pasca Banjir

Bupati Al-Farlaky Siapkan Alat Berat Untuk Jaringan Irigasi Rusak Pasca Banjir

June 13, 2026
Bupati Al- Farlaky Terima Penghargaan KIA

Bupati Al- Farlaky Terima Penghargaan KIA

June 10, 2026
Bupati Al-Farlaky Minta Petugas Sensus Ekonomi 2026 Bekerja Profisional

Bupati Al-Farlaky Minta Petugas Sensus Ekonomi 2026 Bekerja Profisional

June 10, 2026
Bupati Al-Farlaky Pantau Operasi Bibir Sumbing

Bupati Al-Farlaky Pantau Operasi Bibir Sumbing

June 9, 2026
Please login to join discussion

Search

No Result
View All Result

Recent News

BPMA – Medco E&P Selalu Utamakan Aspek Keselamatan Lingkungan Saat Operasi

Hikayat Blok A (Part 1)

June 23, 2026
Ny Lismawani, Istri Bupati Al-Farlaky Raih Gelar Doktor

Ny Lismawani, Istri Bupati Al-Farlaky Raih Gelar Doktor

June 23, 2026

DPRK Aceh Timur Mengucapkan Selamat dan Sukses Kepada Ny Dr. Lismawani Iskandar Al-Farlaky, S.Pd., M.Ag atas keberhasilan meraih gelar Doktor (S3)

June 23, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
  • Disclaimer
Email : redaksi.freelinenews@gmail.com

© 2025 freelinenews.com by PT. Darussalam Megah Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • INTERNATIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • KESEHATAN
  • OPINI

© 2025 freelinenews.com by PT. Darussalam Megah Media