FREELINENEWS. COM | ACEH TIMUR – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menggelar kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan operasi produksi, pengeboran, work over, dan well service Kuartal I Tahun 2026 di Lapangan Blok A Aceh Timur, Kamis (07/05/2026).
Kegiatan ini melibatkan Divisi Operasi Produksi, Divisi Perencanaan Eksplorasi dan Eksploitasi, serta Divisi Teknologi Pengembangan Lapangan.
Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA, Ibnu Hafizh kepada freelinenews.com mengatakan, Monev dilakukan untuk memastikan seluruh program yang telah ditetapkan dalam Work Program and Budget (WP&B) 2026 berjalan sesuai rencana, khususnya pada sektor operasi produksi, optimasi fasilitas produksi, pengeboran, serta work over dan well service. Evaluasi mencakup aspek keselamatan kerja, ketepatan pelaksanaan, hingga capaian produksi.
Kata Ibnu Hafizh, salah satu fokus utama dalam evaluasi tersebut adalah program work over sumur-sumur eksisting di Julo Rayeu yang selama ini menjadi pemasok fuel bagi Gas Engine Generator (GEG/pembangkit listrik) dan beberapa unit utilitas di Alur Siwah Central Processing Plant ( AS CPP).
Beberapa sumur ini diketahui telah mengalami penghentian produksi, sehingga operasional GEG dan beberapa unit utilitas di AS CPP sementara ini memanfaatkan gas salur atau gas pipa yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan komersial.
Adapun program work over sumur pada tahun 2026 meliputi:
- Sumur JR-71 dan JR-74
Pekerjaan difokuskan pada pergantian zona produksi
- Sumur JR-38A
Sumur ini direncanakan menggunakan metode dual completion injection-production yang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai sumur injeksi air terproduksi (produced water injection) sekaligus sumur produksi hidrokarbon. Produksi dari sumur ini diharapkan turut mendukung kebutuhan fuel di AS CPP.

Melalui pemulihan produksi dari sumur JR-71 dan JR-74 serta tambahan pasokan dari JR-38A, BPMA menargetkan pengurangan signifikan terhadap penggunaan gas salur. Penghematan gas tersebut nantinya dapat dialihkan untuk kebutuhan komersial yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Kepala Divisi Operasi BPMA menyampaikan bahwa seluruh program dalam WP&B 2026 diharapkan dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Baik kegiatan operasi produksi rutin, pengeboran, work over maupun well service, termasuk pengaktifan kembali sumur sumur Julu Rayeu,
serta adopsi metode dual completion injection-production pada JR-38A, diharapkan dapat berjalan tepat waktu. Dengan demikian, efisiensi operasional dan ketahanan energi internal Lapangan Blok A dapat segera tercapai,” ujarnya.
BPMA juga menegaskan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi secara berkala menjadi instrumen penting dalam memastikan kesesuaian antara perencanaan dan implementasi di lapangan. Sinergi antara regulator dan KKKS dinilai mampu menjadi solusi terhadap tantangan teknis seperti natural decline sumur eksisting maupun keterbatasan pasokan fuel.
“Dengan pelaksanaan monev dan komitmen penyelesaian program work over secara tepat waktu, kita di BPMA optimistis potensi migas Aceh dapat terus dioptimalkan guna mendukung ketahanan energi nasional,” pungkas Kepala Devisi Operasi Produksi BPMA Ibnu Hafizh. []










