FREELINENEWS.COM | BIREUEN – Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Bireuen dan jajaran menggelar Apel Akbar dan Zikir Bersama memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80, Sabtu (3/1/2026) pagi, di Lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cot Gapu.
Kakankemenag Bireuen, Dr H Zulkifli dalam laporan antara lain mengatakan bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungnan Kementerian Agama, Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama adalah momentum untuk introspeksi sekaligus inspirasi.
“Kita menengok ke belakang untuk mengambil hikmah, melihat ke depan dengan penuh optimisme. Tantangan memang besar, tetapi peluang lebih besar lagi. Kita memiliki SDM yang berkualitas, infrastruktur yang terus berkembang, dan yang paling penting, kita memiliki kepercayaan umat,” ujarnya.
Disampaikan juga bahwa ekses banjir bandang kini sejumlah ASN harus menyaksikan rumah mereka terendam banjir dan lumpur, harta benda tersapu arus, 55 madrasah terdampak lumpur dan luapan banjir sehingga semua mobiler hancur.
Lebih 3.000 peserta didik terdampak, sehingga seluruh perlengkapan sekolah hilang, 12 rumah hilang tanpa bekas, satu pondok pesantren ambruk dan hancur, masjid-masjid terdampak lumpur dan paling memilukan hati, membuat air mata tak tertahankan.
Dua orang siswa yang masih belia dan seorang ASN penuh dedikasi telah dipanggil pulang oleh Sang Khalig pasca bencana hidro meteorologi, ungkap Kakankemenag.
Sementara itu, Bupati Bireuen, H Mukhlis selaku pembina apel dalam arahannya menyampaikan pidato tertulis dari Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar antara lain mengatakan.
Kini, umat manusia menghadapi tantangan besar benama Artificial Inteligence (Al) atau kecerdasan buatan Kita hidup di era VUCA – Volatilty, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity, di mana perubahan berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian.
“Di era ini, kita tidak boleh sekadar menjadi penonton, kita harus memilki kedaulatan Al. Jika dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah,” ujarnya.
Maka, hari ini ASN Kementerian Agama harus mampu mewamai substansi Al dengan konten keagamaan yang otontatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan. “Kita harus memastikan, algoritma masa depan tidak hampa dari nila-nilai ketuhanan dan kemanusiaan,” sebutnya.
Dikatakan juga bahwa Al harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan. Guna mewujudkan visi besar tersebut, setiap ASN Kementerian Agama.
Dituntut bertransformasi menjadi pribadi yang “age” lincah dan sigap menghadapi perubahan, adaptif, terbuka terhadap teknologi, inovasi serta responsif, cepat melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas.
Nilai-nilai ini sejatinya bukan hal baru, melainkan warisan luhur tradisi keagamaan yang perlu kita aktualkan kembali dalam konteks zaman, harap Menteri Agama, Nasruddin Umar.[]











