• Tentang Kami
Saturday, January 10, 2026
  • Login
Freelinenews
  • HOME
  • INTERNATIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • KESEHATAN
  • OPINI
No Result
View All Result
Freelinenews
No Result
View All Result
  • HOME
  • INTERNATIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • KESEHATAN
  • OPINI

Mengintip Kreatifitas Aswan Pengarajin Gerabah di Kota Langsa Aceh

Selly Novita by Selly Novita
4 years ago
in Berita Utama
Mengintip Kreatifitas Aswan Pengarajin Gerabah di Kota Langsa Aceh

Pengrajin Garabah Kota Langsa. Foto Selly Langsa

1
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

[dropcap]T[/dropcap]anah liat dapat menghasilkan karya seni gerabah bernilai tinggi, seperti yang digeluti Aswan warga Blok G Nomor 06 Dusun Serambi Indah, Gampong Serigit, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa. Seni terapan gerabah telah menjadi rutinitas Aswan bersama kelurganya.

Sejak tahun 2007 hingga saat ini, Sanggar Asri yang dirikan Aswan telah menghasilkan berbagai karya seni gerabah untuk kebutuhan perkakas rumah tangga, seperti kendi, periuk, belanga, pot, celengan dan berbagai benda ukiran gerabah lainnya.

Baca Juga

Bupati Al- Farlaky Lakukan Ground Breaking Huntara Di Idi Rayeuk

January 9, 2026

Tiga Menteri Kunjungi Tambak Terdampak Banjir Bandang di Bireuen

January 9, 2026
Aswan Pengrajin Garabah Kota Langsa (Foto Selly Langsa)

Seperti diceritakan kepada freelinenews.com, pada Kamis (03/2/2022) petang, awalnya Aswan mendirikan  Sanggar Asri ini pada tahun 1991. Awalnya ia berfokus pada kerajinan seni lukis, taman dan ukir kayu. “Pada tahun 2007 baru saya  mulai menjajaki kerajinan gerabah ini, karena dari hasil pantauan saya, belum adanya masyarakat Aceh yang membuka usaha kerajinan gerabah seperti ini,” kata Aswan.

Tambah Aswan, ia tertarik seni terapan gerabah, karena bahan baku tanah liat  cukup tersedia di kawasan Kota Langsa dan sekitarnta. Ia merasa bahwa kerajinan gerabah ini memiliki potensi tinggi di pasaran Kota Langsa dan kabupaten / lainnya di Aceh.

Berbekal ilmu pembutan seni tarapan gerabah yang diperolehnya di Jogjakarta, kini Aswan bersama istri dan anaknya mampu menghasilkan 200 buah kerajinan gerabah tipe besar dan untuk yang kecil 100 buah dalam setiap satu kali produksi. Gerabah hasil karya Aswan dan kelurganya dijual dengan harga dari Rp20 ribu sampai dengan Rp1.7 juta/unit, tergantung bentuk dan besarnya.

Membuat motif semenarik mungkin merupakan salah satu cara Aswan untuk menarik pembeli ditengah lebih banyaknya pilihan konsumen untuk mengisi dan menghias barang rumah tangga selain dengan gerabah.

Upaya meletarikan seni tarapan gerabah, Aswan bukan orang yang pelit ilmu. Sebelum pandemi, Aswan juga mengajarkan pembuatan seni terapan gerabah ini kepada para siswa siswi yang ingin belajar secara gratis. “Harapan saya, seni terapan gerabah ini dapat diteruskan oleh generasi-generasi akan dapat dan dapat dilestarikan,” kata Aswan.

Anak Aswan saat membuat Gerabah. Foto Selly Langsa

Menurut para ahli budaya, gerabah merupakan kebudayaan yang universal (menyeluruh), artinya gerabah ditemukan di mana-mana, hampir di seluruh dunia. Perkembangannya bahkan juga penemuannya muncul secara individual di tiap daerah tanpa harus selalu mempengaruhi. Terdapat kemungkinan bahwa masing-masing bangsa menemukan sendiri sistem pembuatan gerabah tanpa adanya unsur peniruan dari bangsa lain.

Mengutip buku Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno oleh Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, gerabah atau tembikar di Indonesia sudah ada sejak zaman Neolitikum yang ditemukan dibeberapa tempat di Indonesia.

Sisa-sisa gerabah dari sejak bercocok tanam telah ditemukan di Banyuwangi (Jawa Timur), Kelapa Dua Bogor (Jawa Barat), Kalumpang dan Minanga Sipakka (Sulawesi), dan disekitar danau Bandung (Jawa Barat).

Teknik pembuatan gerabah dari masa tersebut masih sangat sederhana, yaitu dengan teknik tangan dan pembakaran tradisional. Pembakaran tradisional adalah pembakaran secara terbuka, dalam lubang dangkal beralas tanah liat dengan api rerumputan menyala. Teknik pembuatan gerabah seperti itu masih digunakan sampai sekarang oleh sebagian perajin keramik di Indonesia.

Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan produksi barang kerajinan gerabah adalah tanah liat. Bahan penolong atau perlengkapan produksi terdiri dari pasir, kayu bakar, simir, kiolin, semen warna, minyak tanah dan cat.

Sedangkan peralatan yang digunakan dalam proses produksi adalah unit pengelolaan bahan baku, tungku pembakaran, alat putar, pompa air, kuas dan pisau gores. Pada proses pembakaran didiamkan selama 1 sampai 2 hari, lalu tanah liat digiling agar lebih rekat dan liat.

Gerabah Hasil Karya Aswan di Kota Langsa. Foto Selly Langsa

Gerabah sendiri dalam penggunaannya sebagai wadah, terutama untuk penyimpanan, persiapan, pergerakan dan penyajian makanan. Berikut ini adalah beberapa fungsi gerabah dalam kehidupan sehari-hari, terutama fungsi gerabah dalam budaya Indonesia, yang perlu ketahui:

  1. Fungsi gerabah sebagai alat untuk upacara keagamaan.

Gerabah, biasanya berbentuk cawan atau kendi, digunakan sebagai sarana-sarana upacara seperti misalnya sebagai sarana meletakan air suci, dan lain sebagainya.

  1. Fungsi gerabah sebagai alat rumah tangga.

Dalam fungsi sebagai alat-alat rumah tangga, gerabah antara lain digunakan sebagai alat memasak atau wadah-wadah seperti kendi untuk menampung udara, wadah untuk wadah makanan, gelas untuk wadah minuman, tungku untuk memasak, dan sebagainya.

  1. Fungsi gerabah sebagai perhiasan dan penanda status.

Pada masa Jawa Kuno, gerabah keramik digunakan sebagai penanda status. Pada masa itu, keramik-keramik asing adalah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kaum-kaum bangsawan tertentu seperti raja. []

Sumber : Buku Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno oleh Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia

Share1TweetSend
ADVERTISEMENT

Baca Juga

Bupati Al- Farlaky Lakukan Ground Breaking Huntara Di Idi Rayeuk

January 9, 2026

Tiga Menteri Kunjungi Tambak Terdampak Banjir Bandang di Bireuen

January 9, 2026
Bencana Tahun Lalu Belum Kelar, Aceh Timur Kembali Diselimuti Banjir

Bencana Tahun Lalu Belum Kelar, Aceh Timur Kembali Diselimuti Banjir

January 8, 2026
Utsus Presiden Serah Bantuan Korban Banjir di Aceh, Sawah Tertimbun Jadi Prioritas Penanganan

Utsus Presiden Serah Bantuan Korban Banjir di Aceh, Sawah Tertimbun Jadi Prioritas Penanganan

January 6, 2026
18 Ribu Lebih Rumah di Aceh Timur Rusak, Bupati Alfarlaky Dorong Percepatan Huntara

18 Ribu Lebih Rumah di Aceh Timur Rusak, Bupati Alfarlaky Dorong Percepatan Huntara

January 5, 2026
IRT Tewas Mengenaskan Tergilas Truk Tangki CPO

IRT Tewas Mengenaskan Tergilas Truk Tangki CPO

January 2, 2026
Bupati Al-Farlaky Lewati Akhir Tahun 2025 Bersama Pengungsi

Bupati Al-Farlaky Lewati Akhir Tahun 2025 Bersama Pengungsi

January 2, 2026
Polisi Aceh Timur Mengamankan Terduga Pelaku Pembunuhan di Peureulak Barat

Polisi Aceh Timur Mengamankan Terduga Pelaku Pembunuhan di Peureulak Barat

December 29, 2025
Please login to join discussion

Search

No Result
View All Result

Recent News

Pemukiman Warga Ule Jalan Tertimbun Tanah Banjir Bandang Sudah Dibersihkan

Pemukiman Warga Ule Jalan Tertimbun Tanah Banjir Bandang Sudah Dibersihkan

January 10, 2026

Bupati Al- Farlaky Lakukan Ground Breaking Huntara Di Idi Rayeuk

January 9, 2026

Getek di Pante Lhong Layani Penyeberangan Ongkos Murah

January 9, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
  • Disclaimer
Email : redaksi.freelinenews@gmail.com

© 2025 freelinenews.com bay PT. Darussalam Megah Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • INTERNATIONAL
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • EKONOMI
  • KESEHATAN
  • OPINI

© 2025 freelinenews.com bay PT. Darussalam Megah Media