FREELINENEWS.COM | BIREUEN – Sembilan madrasah berada di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bireuen, hingga saat ini masih dalam kondisi tergenang lumpur dan rusak parah akibat banjir bandang yang melanda Aceh Selasa-Rabu (25 s.d 26/11/2025] lalu.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Bireuen, Dr H Zulkifli melalui Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Anis kepada wartawan, Sabtu (3/1/2026) pagi mengatakan, begitupun kondisinya proses belajar mengajar diupayakan berlangsung mulai 5 Januari 2025.
Anis menjelaskan akibat banjir atau bencana hydro metereologi, 86 madrasah terdampak banjir dengan kondisi ada yang mengalami rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan serta terendam lumpur yang dibawa oleh arus banjir.
Adapun madrasah yang rusak jenjang Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 54 unit dan ditambah 2 MIS. Jenjang MTsN 10 unit ditambah 2 unit MTsS di berbagai pesantren atau dayah.
Sedang untuk jenjang Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 6 unit dan juga 4 unit MAS serta 2 unit Raudhatul Athfal juga terdampak banjir, rincinya seraya juga mengatakan sampai awal Januari 2026 ada sembilan madrasah masih dipenuhi endapan lumpur dan rusak berat.
Sekolah itu, MIN 43 atau MIN Cot Ara, Kecamatan Kutablang, MIN 47 atau MIN Punjot, Kecamatan Jangka, MIN 10 Lueng Daneun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, MIN 48 Alue Kuta, Kecamatan Jangka, MIN 3 Kuta Baro, Kecamatan Peusangan.
Selanjutnya, MTsN 11 Bireuen Krueng Panjoe, Kecamatan Kutablang, MTsN Lueng Daneun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, MTsN 1 Bireuen dan MAN 5 Bireuen di Kecamatan Gandapura, terangnya.
Kasi Penmad menambahkan walau kondisi sekolah itu masih terendam lumpur, ada beberapa ruangan sudah bersih dan dijadikan ruang belajar darurat, Kankemenag Bireuen segera mengirim mobiler untuk ruangan yang sudah siap belajar.
Setiap madrasah yang berat lumpur berat sudah dibantu genset untuk pompa air membersihkan madrasah, dan juga sudah diturunkan alat berat membersihkan madrasah.
Bagi sekolah yang masih berlumpur diharapkan dapat melaksanakan proses belajar mengajar sebisa mungkin, untuk mobiler yang rusak segera dibantu, bagi siswa yang tidak ada lagi baju seragam dibenarkan memakai baju non seragam sekolah.
Kankemenag Bireuen menyediakan tas sekolah bagi siswa, jumlah yang sudah dipesan sekitar 1000 tas, saat ini dalam pengiriman ke Bireuen dan setelah tiba segera diantar ke sekolah sangat terdampak, dengan harapan proses belajar mengajar bisa berjalan dengan segala keterbatasan, jelasnya.[]











