Sementara itu, Rektor Universitas Malikussaleh, Dr Herman Fithra, ketika membuka kuliah umum, mengatakan berdirinya MCU merupakan inisiatif dari Kepala SKK Migas Wilayah Sumbagut, PHE, dan Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA).
“Berbicara soal migas, yang paling penting bukan hanya aspek teknis, tapi 60 persen merupakan aspek sosial, ekonomi, dan budaya,” ujar Herman.
Dalam kuliah umum, Ia juga mengingatkan pengalaman di masa lalu ketika ditemukan gas Arun pada awal 1970-an, masyarakat tidak siap dan tidak memiliki peran penting dalam ekplorasi gas.
“Kehadiran MCU merupakan sarana pendidikan bagi semua, lembaga pendidikan, kontraktor, dan sebagainya. Dengan hadirnya MCU ini, maka generasi muda terutama di Aceh sudah siap mengelola migas, apalagi dengan hadirnya BPMA yang hanya ada di Aceh,” pungkas , Dr Herman Fithra.
Serangkaian Grand opening MCU, juga dibentuk Oil and Gas Community, sebuah komunitas yang terdiri dari mahasiswa Unimal yang peduli terhadap industry migas.
Grand Opening MCU hari ini, juga dihadiri Direktur SDM dan Umum PT Pupuk Iskandar Muda Usni Syafrizal, Pjs Field Manager PHE NSO-NSB Danie Mustafa, perwakilan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), perwakilan Pertamina EP Rantau,PHE NSO, PHE Siak, PHE Kampar, Pertamina EP Pangkalan Susu, Pertamina EP Lirik, Mubadala Petrolium, Premier Oil, Triangle Pase Zaratex NV, serta pihak perbankan.(*)